Proses Bisnis “Philip Morris”

6 10 2010

Come to where the flavor is – come to Marlboro Country” begitulah slogan dari produknya yang terkenal yaitu MARLBORO.

Philip Morris Internasional (PMI) merupakan salah satu perusahaan dalam kelompok usaha Altria. Perusahaan induk ini membawahi empat perusahaan operasional, yaitu :

  1. Perusahaan rokok Philip Morris USA.
  2. Philip Morris International
  3. Perusahaan makanan Kraft Food yang antara lain memproduksi keju Kraft, biskuit Oreo.
  4. Perusahaan keuangan Philip Morris Capital Corporation.

Penamaan Altria baru dilakukan pada April 2002 untuk membedakan induk perusahaan yaitu Philip Morris Companies. Dengan anak perusahaan :

  1. Philip Morris USA
  2. Philip Morris International
Philip Morris Internasional (PMI) merupakan salah satu perusahaan tembakau terbesar di luar AS. Saat ini pangsa pasar internasional PMI sebesar 14,5 persen dengan jumlah pegawai 40.000 orang yang tersebar di seluruh dunia. Merek – merek PMI dibuat di 70 pabrik dan dipasarkan di 160 negara.

Awal Perkembangan dan Strategi Philip Morris memasarkan Marlboro

Dimulai pada tahun 1874 saat Philip Morris membuka toko tembakau dan rokok di Jalan Bond, London. Setelah meninggalnya Morris, usaha ini dilanjutkan oleh istrinya, Margaret, dan saudaranya, Leopold. Pada tahun 1881 perusahaan ini menjadi perusahaan publik. Keluarga pendiri akhirnya kehilangan kontrol perusahaan pada tahun 1894 karena kepemilikannya diambil alih oleh William Curtis Thomson dan keluarga, di bawah pengelolaan keluarga Thomson, keluarga ini atas saran Raja Edward VII digabungkan dengan perusahaan New York oleh Gustav Eckmeyer tahun 1902. Kepemilikan dipecah menjadi dua, 50-50 antara pemegang saham Inggris dengan pemegang saham AS, Eckmeyer ditunjuk menjadi agen tunggal Philip Morris di AS sejak tahun 1872 untuk mengimpor dan menjual rokok buatan Inggris ini. Tahun 1919 merupakan tahun yang penting untuk perusahaan. Pada tahun inilah diperkenalkan logo Philip Morris serta diakuisisinya Philip Morris Amerika oleh perusahaan baru yang dimiliki perusahaan dari Virginia. Sepuluh tahun berikutnya, mulailah perusahaan ini membuat rokok di Richmond, Virginia, tahun 1924 merupakan tahun peluncuran merek Philip Morris yang paling terkenal yaitu Marlboro. Pertengahan tahun 1950-an perusahaan ini melakukan ekspansi secara besar-besaran dan mulai memasarkan produknya ke seluruh penjuru dunia.

Di tahun 1954 didirikanlah Philip Morris Australia dan divisi Philip Morris International yang menjadi divisi internasional dan mengurusi bisnis di luar AS. Divisi ini kemudian berubah menjadi Philip Morris International (PMI). Pada 1961, Philip Morris menjadi perusahaan Amerika pertama yang menandatangani kerja sama dengan perusahaan tembakau milik negara, pemegang hak monopoli di Prancis, kesepakatan serupa akhirnya dicapai dengan Italia, Australia, Swiss, Jerman, dan Nigeria. Ekspansi PMI terus ke Eropa. Pada 1963, pabrik di Swiss menjadi pabrik pertama di Eropa. Sekitar satu dekade kemudian, volume penjualan unit internasionalnya mencapai 113 miliar batang, mereka juga berupaya memasuki pasar Uni Soviet era Perang Dingin. Tahun 1990-an PMI mengakuisisi pabrik di Lituania, Rusia, dan Polandia, juga membangun pabrik baru di St Petersburg Rusia dan Almaty di Kazakhstan. Dari rokok, Philip Morris menjangkau bisnis lain, dimulai dari produk ASR, yang membuat pisau cukur Gem dan Pal, pada 1960, tiga tahun kemudian mereka membeli Clark, penghasil permen karet. Tapi dunia usaha terbelalak ketika perusahaan yang dipimpin Joseph Frederick Cullman III itu membeli Miller Brewing Co. ? produsen minuman terbesar ketujuh di dunia ? senilai US$ 227 juta, pada penghujung 1960-an.  Philip Morris kemudian mengucurkan dana US$ 5,6 miliar untuk membeli produsen makanan dan kopi raksasa General Foods, yang antara lain menghasilkan Post’s Cereal, Jell-O, dan Maxwell House Coffee (1985). Dana lebih be-sar dikeluarkannya ketika mengakuisisi Kraft Inc., merek makanan terbesar kedua di dunia, senilai US$ 12,9 miliar (1988).

Cabang Philip Morris di Indonesia, PT. Philip Morris Indonesia, membeli 40% saham PT. HM Sampoerna, perusahaan rokok terbesar ketiga di Indonesia pada Maret 2005, menaikkan jumlah saham mereka di perusahaan tersebut hingga sekitar 97% pada 18 mei 2005 (siang). Berbekal dua merek dagangnya yang sangat dikenal ? Dji Sam Soe dan A Mild ? Sampoerna menguasai 19,4 persen pangsa pasar di Indonesia. Inilah yang diincar Philip Morris, yang menguasai 14,5 persen pasar rokok di dunia itu. “Kami ingin menjadi pesaing yang diperhitungkan di Indonesia, pasar paling potensial kelima di dunia,” kata Senior Vice President  Morris International, David Davies.  Alasan yang masuk akal, karena rokok kretek menguasai 92 persen pangsa pasar rokok di Indonesia. Sisanya diambil produk rokok putih ? yang separuhnya dikuasai Marlboro.  Dengan Mengakuisisi H.M Sampoerna, Philip Morris mempunyai harapan untuk “Mengkretekkan Dunia” Mereka yakin, dengan strategi ini akan menjadi bekal berharga menembus pasar di luar Indonesia, terutama Cina.

Akuisisi itu merupakan langkah perusahaan memperluas bisnisnya di Asia.
  • Di negeri asalnya perusahaan rokok tak lagi leluasa. Berbagai pembatasan dan larangan ? baik dalam distribusi, penjualan, maupun pemasangan iklan ? berpengaruh besar bagi industri rokok, selain kepedulian atas risiko kesehatan akibat merokok makin meningkat (As Threat).
  • Pasar di Amerika tak lagi berkembang sepesat dulu”., kata Erin Smith, peneliti Argus Research. “Pembatasan juga mulai diberlakukan di Eropa bagian barat.”  (As Threat).
  • Di negara sedang berkembang, tekanan itu belum terasa. Sebagai perbandingan, tahun lalu di Amerika, pasar Philip Morris hanya berkembang sekitar 3 persen, tapi pasar internasional justru tumbuh hingga 18 persen. (As Opportunity)
  • Mereka menyadari membangun bisnis dan memasarkan produk yang membuat kecanduan dan menyebabkan penyakit-penyakit yang serius. Walaupun demikian, mereka mengatakan akan menjadi perusahaan yang bertanggung jawab. (As Responsibility).
Iklan