Membangun Kembali Jati Diri Bangsa

19 10 2010

Membangun Kembali Jati Diri Bangsa

tanpa adanya jati diri bangsa, suatu bangsa akan mudah terombang – ambing dan kehilangan arah dalam era globalisasi yang bergerak cepat dewasa ini” – cuplikan pidato SBY pada puncak HARDIKNAS, Candi Prambanan ‘ 26 Mei 2007.

“When Character Is Lost., Everything Is Lost”

KONSEP PERUBAHAN

Hakikat perubahan seperti yang kita ketahui adalah dunia akan terus berubah, tidak ada yang kekal kecuali perubahan itu sendiri. “The Willingness to Change”. (kemauan untuk berubah) puisi ini tertulis disebuah makam Westminster abbey 1100 M dan di tulis oleh seorang Anglican Arch Bishop (Puisi “Hasrat untuk Berubah”).

“If You Want to Change the World., First You have to Change Your Self”.

Kata – kata tersebut sejalan dengan firman tuhan yang ada di Al-Qur’an :

“Tuhan Tidak akan mengubah nasib suatu bangsa / kaum., kecuali kaum tersebut mengubahnya sendiri”.

Dari ayat tersebut cukup jelas, walaupun tuhan telah menciptakan takdir untuk hambanya disisi yang lain tuhan menyuruh umatnya untuk berusaha melakukan perubahan. Takdir adalah hasil akhir dari usaha / perubahan tersebut.

Melakukan perubahan dimulai dari hal-hal sederhana, dari diri kita, keluarga, lingkungan, negara bahkan sampai kedunia. Ingat…!! Selalu diawali dari hal yang terkecil. Melakukan perubahan tidak hanya diucapkan atau diniatkan saja tetapi dilakukan untuk melakukannya itu hal yang sulit dilakukan dibutuhkan sesuatu yang kuat tidak hanya tenaga, pikiran, niat, rohani, jasmani. Kesemuanya itu adalah diri kita secara keseluruhan yang disebut dengan KARAKTER. Kenapa harus karakter….? Karakter terbentuk oleh hasil pemikiran kita (individu), sudut pandang, ilmu pengetahuan, lingkungan (keluarga, masyarakat, dan negara). Untuk itu kita harus membangun KARAKTER..! Karakter yang bagaimana…? Karakter seperti apa…?

Banyak parapemimpin dewasa ini berbondong-bondong menyuarakan suatu perubahan (Change)., “Jika kamu ingin sukses kamu harus melakukan perubahan” bahkan presiden Barack Obama (USA) membawa isu perubahan dalam kampanye pemilihannya. Sejauhmana mereka telah melakukan perubahan…? Yang berdampak baik bagi rakyat / bangsanya.

Perubahan itu erat kaitannya dengan Human (Manusia) itu sendiri. Seseorang yang berkarakter berarti memanfaatkan nilai-nilai moral yang dimiliki dan melalui daya juang ditampilkan atau dipancarkan sehingga mampu mewujudkan suatu tindakan yang nyata. Seseorang yang baik saja belum tentu berkarakter, tetapi seorang yang berkarakter sudah pastilah orang yang baik.

Karakter adalah nilai seseorang berdasarkan pemikirannya, sikapnya dan prilakunya. Pengertian karakter dalam agama islam lebih dikenal dengan istilah Ahklak, seperti yang dikatakan oleh imam Al-Ghazali :

Ahklak  adalah sifat yang tertanam / menghujam di dalam jiwa dengan sifat itu seseorang akan secara spontan dapat dengan mudah memancarkan sikap, tindakan, dan perbuatan. Contoh :

ü  Seseorang yang berkarakter tidak akan membudayakan budaya ABS (Asal Bapak Senang) menjadikan dia seseorang yang Yes Man. Seorang yang berkarakter akan mempunyai keberanian menyampaikan pendapatnya secara baik, tegar dan sopan.

ü  Seorang pemimpin yang berkarakter tidak akan mau dikelilingi orang-orang Yes Man karena seorang pemimpin memerlukan masukan yang tajam dan benar untuk menjadikan keputusan yang diambil tepat dan benar.

Jadi seorang yang berkarakter tidak cukup hanya sebagai seorang yang baik saja, tetapi orang yang berkarakter adalah orang yang baik dan sekaligus mampu menggunakan nilai baik tersebut melalui suatu daya juang mencapai tujuan mulia yang dicanangkan.

Pembinaan Watak Merupakan Tugas Utama Pendidikan

Dalam perjalanan pendidikan nasional, rancangan yang begitu utuh, menyeluruh, dan terpadu ternyata menitik beratkan pada pengembangan pengetahuan dan keterampilan tetapi mengabaikan masalah pembinaan watak.

Hal ini berawal dari ditiadakannya pendidikan budi pekerti dilanjutkan dengan yang disebut “Competence based Currilume” pada saat ini kita dapat merasakan bahwa pendidikan hanya mampu menghasilkan dan menampilkan banyak orang pandai, tetapi bermasalah dengan hati nuraninya yang tampak dalam penampilan dan kinerjanya (karakter dan jatidirinya).

Herbert Spencer., seorang filsuf inggris, 1820 – 1903, menyatakan :

Education has for its object the formation of character” sasaran pendidikan adalah membangun karakter.

the Great aim of education is not Knowledge but Action” tujuan utama pendidikan bukanlah pengetahuan tapi tindakan.

We Cannot Teach What we WantWe Only can Teach what we are” kita tidak bisa mengajarkan apa yang kita inginkan, tetapi kita hanya bisa mengajarkan sebagaimana apa adanya dari kita.

Bagi seorang pendidik atau pemimpin, jangan sampai berbeda apa yang diajarkan/diperintahkan dengan apa yang dikatakan/lakukan. “Bangsa yang maju dan jaya tidak semata-mata disebabkan oleh kompetensi teknologi canggih ataupun kekayaan alamnya, tetapi utama dan terutama karena dorongan semangat dan karakter bangsanya.

Hal ini dapat dilihat dari negara Jepang., Korea Selatan., China., Inggris., dan Vietnam. Berkarakter kah Kita sebagai Bangsa Indonesia…? Jawabannya… Blm., sebagai rakyat / masyarakat Indonesia yang terdiri dari suku bangsa tentunya kita mempunyai karakter yang mewakili suku kita. Bisa dilihat dari karakter orang jawa, karakter tersebut tidak cukup mewakili atas nama Bangsa Indonesia. Untuk itu diperlukan “Character Building Indonesia Framework” yang terdiri dari karakter – karakter suku bangsa yang ada di Indonesia. Nah timbul pertanyaan., Bukanya kita sudah memiliki PANCASILA ? sejauhmana pengamalan pancasila kita terhadap kehidupan Berbangsa dan Bernegara kita….? Tidak hanya tugas GURU PPKN saja yang menjelaskannya/mengajarkan/mengamalkannya. Peran karakter bagi diri seorang manusia adalah ibarat kemudi bagi sebuah kapal. Karakter adalah kemudi hidup yang akan menentukan arah bahtera kehidupan seorang manusia.

Charakter Building

Antonin Scalia (Hakim Tinggi Amerika) :

The Only thing in the World not for sale is Character” satu-satunya yang tidak dapat dibeli dimuka bumi ini adalah karakter. “Character Building is a Never Ending Process” untuk membangun karakter yang perlu kita lakukan adalah membentuk kebiasaan (Habits Forming) yang berarti kita harus menanamkan pada diri kita kebiasaan – kebiasaan yang baik.

Samuel Smiles., menulis Puisi yang berjudul :

Law of The Harvest

Sow a Thought

Reap an Action

Sow an Action

Reap a Habit

Sow a Habit

Reap a Character

Sow a Character

Reap a Destiny

 

Hukum Panen

Tanamlah Pemikiran

Kamu akan Menuai Tindakan

Tanamlah Tindakan

Kamu akan Menuai Kebiasaan

Tanamlah Kebiasaan

Kamu akan Menuai Karakter

Tanamlah Karakter

Kamu akan Menuai Nasibmu

 

Guru menjadi ujung tombak dari pengamanan kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara melalui membangun karakter anak didiknya sehingga diharapkan tampilnya guru yang mau kembali membangun karakter pribadinya dan siap menjadi teladan.

Family Ties

The Beauty of a family

Is Harmony

The Security of a family

Is Loyality

The Joy of a family

Is Love

The Rule of a family

Is Service

The Comfort of a family

Is god Him self

HASRAT untuk BERUBAH

Untuk melakukan perubahan khususnya pada diri kita sendiri, terlebih dahulu kita harus membangun karakter (jati diri) dari diri sendiri, lalu keluarga., lingkungan kita (tetangga, tempat kita bekerja), baru daerah (negara/wilayah) yang bersifat Bottom Up. Langkah ini akan berhasil dalam jangka waktu yang lama (tidak ada proses yang instan) untuk melakukan perubahan.

Membangun Sikap Dasar :

  1. Membangun sikap jujur dan tulus. Dengan berani mengatakan apa yang benar adalah benar dan yang salah itu salah.
  2. Sikap yang terbuka, yang merefleksikan kebersihan luar dalam.
  3. Berani mengambil resiko dan bertanggung jawab, yang ditunjukkan dengan membela kebenaran dan keadilan.
  4. Konsisten dengan komitmen, dengan selalu menepati janji, perkataan harus sesuai dengan perbuatan.
  5. Sikap bersedia berbagi (sharing) yang menampilkan mentalitas berkelimpahan (abudance mentality)

Awali karakter dasar tersebut dengan :

  1. Niat yang bersih untuk mengawali setiap pekerjaan (Nawaitu).
  2. Tidak mendahului kehendak tuhan, agar apa yang kita rencanakan mendapat ridhonya (Insyaallah).
  3. Bersyukur, kepadanya atas hasil apapun yang kita dapat, baik yang kita senangi maupun yang tidak kita senangi dan inginkan (Alhamdulillah).

Untuk melakukan semua itu (poin yang diatas) dengan cara :

  1. Merencanakan hasrat untuk berubah melalui Doa atau Ibadah, karena hakikat dari doa adalah tuntunan terhadap diri sendiri untuk mewujudkan perubahan.
  2. Mewujudkan perubahan dengan memanfaatkan anugrah ilahi pada manusia (self awareness.,consciousness, imagination,dan independent will).
  3. Siap menjadi suri teladan, dalam menjalani amanah tuhan, manusia menjadi khalifah dimuka bumi. Menjadi khalifah tidak mungkin tanpa memberi suri teladan.

Disposisi Seorang Pemimpin Khususnya Seorang Guru Efektif

  1. Empati : guru yang efektif mampu memahami dan sensitif terhadap dunia pribadi siswa serta memiliki prioritas untuk membantu orang lain agar dapat belajar.
  2. Pandangan yang positif terhadap orang lain : guru yang efektif memiliki pandangan yang positif mengenai keberadaan, kemampuan, dan potensialitas orang lain. Mereka menghargai keberadaan dan integritas pembelajaran serta memiliki harapan positif yang realistis untuk pertumbuhan dan keberhasilan pembelajaran.
  3. Pandangan yang positif terhadap diri sendiri : mampu mengetahui kekuatan dan kelemahan serta secara realistis tahu apa yang bisa dicapai.
  4. Autentik : guru yang efektif dapat bersikap apa adanya, terbuka, dan jujur terhadap orang lain. Mereka mengembangkan dan menunjukkan pendekatan yang unik dalam mengajar, mereka tidak berpura-pura.
  5. Memiliki visi dan tujuan yang bermakna : guru yang efektif mengarahkan diri pada sasaran, sikap, dan nilai yang luas dan mendalam serta berpusat pada pribadi.

 

The Willingness to Change

When I was young and Free.,

And my Imagination has no Limits.,

I Dreamed of Changing the World.,

As I Grew Older and Wiser.,

I Discovered the World Would not Change.,

So I Shortened my Sight Somewhat.,

And decided to Change only my Country.,

But it too Seemed Immovable.

As I Grew into my Twilight Years

In One last desperate attempt

I settied for changing only my Family

Those Closest to me, but a las

They would have none of it.

And now as I lay on my deathbed

I suddenly realize

If I had only changed my self first

Then by example I might have changed my family,

From their inspiration and encouragement,

I would then have been able to better my country,

And who knows, I may have even change the world.

(an Anglican Bishop, 1100 AD, as written in the Crypts of Westminster Abbey)

 

Hasrat untuk Berubah

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,

Aku bermimpi ingin mengubah dunia.

Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,

Kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.

Maka cita-cita itupun agak kupersempit,

Lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.

Namun tampaknya, hasrat itupun tiada hasil

Ketika usiaku semakin senja,

Dengan semangatku yang masih tersisa,

Kuputuskan untuk mengubah keluargaku,

Orang-rang yang paling dekat denganku.

Tetapi malangnya, merekapun tidak mau berubah.

Dan kini, sementara aku berbaring saat ajal menjelang,

Tiba – tiba kusadari :

Andaikan yang pertama – tama kuubah adalah diriku,

Dan dengan menjadikan diriku sebagai teladan,

Mungkin aku dapat mengubah keluargaku.

Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,

Bisa jadi akupun mampu memperbaiki negeriku.

Kemudian siapa tahu

Aku bahkan dapat mengubah dunia.

Iklan